Medan, 1 Juli 2026 – Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau melaksanakan kegiatan Visiting Lecturer di Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN Sumatera Utara sebagai bagian dari implementasi kerja sama Tridharma Perguruan Tinggi antara kedua institusi.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Syekh Abdul Wahab Rokan, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN Sumatera Utara ini mengusung tema “Kearifan Lokal sebagai Pendekatan Resolusi Konflik”. Salah satu sesi utama diisi oleh Suheri, M.A., dosen Program Studi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim Riau, yang menyampaikan materi berjudul “Kerangka Konseptual dan Prinsip-Prinsip Relasionalitas: Indigenous Religion Paradigm.”
Dalam paparannya, Suheri menjelaskan bahwa kajian agama dewasa ini mulai mengalami pergeseran paradigma, terutama dalam memahami agama-agama leluhur (indigenous religions). Selama ini, studi agama masih didominasi oleh World Religion Paradigm yang memandang agama melalui perspektif tradisi-tradisi besar dunia sehingga praktik keagamaan masyarakat adat kerap direduksi sebagai animisme, kepercayaan lokal, atau sekadar tradisi budaya.
Menurutnya, Indigenous Religion Paradigm menawarkan perspektif yang lebih adil dengan menempatkan masyarakat adat sebagai subjek pengetahuan, bukan objek kajian. Paradigma ini memandang hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan berbagai entitas kosmos sebagai hubungan yang bersifat relasional, etis, dan saling menghormati.
“Paradigma agama leluhur tidak hanya mengubah cara kita memahami agama, tetapi juga mengajak kita melihat bahwa keberagamaan diwujudkan melalui tanggung jawab, etika, dan relasi timbal balik dengan seluruh makhluk,” jelas Suheri di hadapan dosen dan mahasiswa peserta kegiatan.
Selain menguraikan perkembangan teori dalam kajian agama, materi juga menampilkan sejumlah studi kasus masyarakat adat di Indonesia, seperti komunitas Ammatoa Kajang di Sulawesi Selatan, masyarakat Kendeng di Jawa Tengah, dan masyarakat Mollo di Nusa Tenggara Timur. Ketiga komunitas tersebut menunjukkan bagaimana nilai-nilai religius berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui penghormatan terhadap hutan, gunung, dan tanah sebagai bagian dari komunitas kehidupan.
Suasana perkuliahan berlangsung secara interaktif. Mahasiswa tidak hanya mengikuti pemaparan materi, tetapi juga terlibat dalam diskusi kritis mengenai hubungan antara agama, lingkungan, hak masyarakat adat, serta relevansi paradigma agama leluhur dalam merespons berbagai persoalan sosial-ekologis kontemporer di Indonesia.
Untuk meningkatkan partisipasi peserta, sesi pembelajaran juga dikemas melalui permainan interaktif (interactive quiz) menggunakan platform digital. Melalui metode ini, mahasiswa diajak mengukur pemahaman awal sekaligus merefleksikan perubahan perspektif setelah mengikuti perkuliahan. Pendekatan tersebut berhasil menciptakan suasana belajar yang aktif, dialogis, dan partisipatif.
Kegiatan Visiting Lecturer ini menjadi salah satu bentuk nyata implementasi kerja sama akademik antara Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim Riau dan Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN Sumatera Utara dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan keilmuan. Melalui pertukaran dosen dan penguatan jejaring akademik, kedua institusi berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang kolaborasi ilmiah yang memperkaya wawasan mahasiswa sekaligus memperkuat kualitas pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.
Di akhir kegiatan, kedua fakultas berharap kerja sama yang telah terjalin dapat terus dikembangkan melalui berbagai program akademik lainnya, seperti penelitian kolaboratif, seminar ilmiah, publikasi bersama, hingga pertukaran dosen dan mahasiswa. Dengan demikian, kemitraan antarperguruan tinggi tidak hanya berhenti pada aspek administratif, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang studi agama-agama dan kajian keislaman yang responsif terhadap isu-isu kontemporer.















